Masih ingat dengan bahasan tentang Rappelling sebelumnya. Nah kali ini Cepu Adventure akan membagikan tips kalau dalam keadaan darurat ( peralatan sangat terbatas). Yuk simak selengkapnya.
Sebelum masuk ke pembahasan teknisnya mari kita kenali dulu lebih detail soal Carabiner/ Snaplink/ Cincin kait dilihat dari berbagai segi.
Carabiner dilihat dari bahan/materialnya.
Kalau dilihat dari bahan yang digunakan secara umum terbagi menjadi 2 yaitu :
- Carabiner dengan bahan Alloy, Carabiner jenis ini berbahan alumunium Alloy dimana bahan ini terkenal sangat kuat tetapi tidak tahan terhadap benturan, sehingga pantang untuk dipukul-pukulkan. Cirinya adalah sangat ringan sehingga sangat cocok digunakan untuk pemanjatan/ Climbing dan juga operasi SAR dimana memerlukan Carabiner dalam jumlah banyak.
- Carabiner dengan bahan Baja, Carabiner jenis ini tentu lebih berat dan kekuatannyapun masih dibawah Alloy sehingga wajar kalau harganya juga lebih murah. Di Cepu Adventure Carabiner baja ini kami gunakan untuk latihan. Rata-rata kemampuan menahan beban sekitar 600-800 kg, artinya masih sangat aman apabila digunakan untuk latihan. Beberapa produk dalam negeri juga sudah bagus dan lulus uji di ITB dengan beban sekitar 800 kg/ 8kN.

Beberapa type Carabiner
Carabiner dilihat dari sytem pengamannya.
Kalau dilihat dari system pengamannya carabiner dibedakan menjadi 3 yaitu :
- Carabiner non Screw/ Snap. Carabiner jenis ini tidak penggunakan pengaman / screw pada gate nya, diperlukan untuk kegiatan yang memerlukan kepraktisan contohnya pada pemanjatan dimana biasanya memerlukan banyak Runner yaitu 2 Snap yang dihubungkan dengan herolop/semacam webbing berjahit yang sangat kuat, atau digunakan untuk Rapelling TNI jaman dulu.

Carabiner non Screw/ Snap - Carabiner Screw artinya pada Gate Carabiner terdapat pengaman berupa Screw ( pengaman Ulir) sehingga Gate tidak mudah terbuka. Secara umum jenis ini sangat banyak digunakan di kegiatan apapun.
- Carabiner Auto Lock. Sesuai dengan namanya pada Gate Carabiner terdapat pengunci yang bekerja secara otomatis, artinya ketika gate sudah dibuka dengan memutar Locknya maka akan mengunci secara otomatis ketika dilepas.
Carabiner dilihat dari bentuknya
Secara umum Carabiner berbentuk Oval, Delta , Pear shape , Asymetric dan bentuk-bentuk khusus yang dirancang untuk kebutuhan khusus seperti Carabiner Paralayang dan snap untuk pengikat Hammock.
Cara membaca Spesifikasi Carabiner
Setiap produk Carabiner pasti terdapat minimal 2 spec beban/load pada jenis Snap dan 3 spec beban/ load pada jenis Screw atau Autolock. beban terbaik adalah pada sisi Vertical, beban sedang pada Horisontal sedangkan sisi beban terlemah ada pada pintunya atau Gate. Satuan dari kekuatan Carabiner ini biasanya kN ( Kilo Newton ) yang equal dengan 100 Kg, tetapi juga ada yang Kg dan ditandai dengan tanda panah.

Beberapa pabrikan mencantumkan standar UIAA standar peralatan Rope Access atau standar Internasional untuk peralatan Climbing dan Mountainering.

Rappelling hanya menggunakan Carabiner
Nah setelah kita tahu tentang seluk-beluk Carabiner yuk kita lanjutkan dengan bagaimana kita Rappelling hanya menggunakan Carbiner tanpa peralatan Descender yang lain (Figure 8, Auto stop, ID’s, AXEL Descender dll ).

Saya pertama kali melakukan Rappelling di Jembatan sungai Lusi kab. Blora tahun 1986. Saat itu masih menggunakan tali tambang dan Carabiner saja karena memang peralatan lain belum ada. Harnessnya menggunakan tali tambang diameter 13 mm dan sarung tangan las untuk pengaman. Diajari langsung oleh Kak Didik ( the legend SAR Blora), selanjutnya berlatih di beberapa tempat di Blora.
Dulu dikenal dengan teknik Komando karena bapak-bapak TNI juga hanya menggunakan Carabiner bahkan yang tanpa kunci karena alasan kecepatan bergerak. Nah karena teknik ini sudah diperbaharui dengan peralatan yang semakin banyak dan beragam maka teknik ini jarang digunakan. Tapi paling tidak pada kondisi darurat dengan peralatan terbatas kita masih bisa melakukan Rappelling.
Adapun teknik ini terbagi menjadi 3 macam yaitu :
- Menggunakan Carabiner Screw. Secara teori karena menggunakan Screw sebagai pengaman teknik ini lebih baik dari pada non Screw. Tetapi karena teknik ini menggunakan geseran pada salah satu sisi Carabiner maka tetap saja berbahaya ketika salah pada saat melilitkan tali di Carabiner. Karena lilitan dan geseran bisa berada di Gate Carabiner maka Gate Carabiner bisa terbuka dan pasti terjadi insiden. Maka fardu Áin hukumnya untuk pemasangan lilitan tali harus benar. Silahkan simak Vidio berikut: https://vt.tiktok.com/ZSNNaBsHm/
- Menggunakan Carabiner non Screw/ Snap. Karena Carabiner jenis ini tidak ada pengamannya maka pemasangan Carabiner dan lilitan tali juga wajib benar. Sekali salah cara melilit maka tidak ada lagi geseran artinya anda akan terjun bebas. Silahkan simak video berikut:https://vt.tiktok.com/ZSNNahC1P/
- Menggunakan simpul Munter/Munter hitch. Menggunakan simpul ini juga bisa digunakan apabila dalam keadaan darurat, bahkan gerakannya lebih pelan karena lilitan tali ditindis dengan tali juga. Silahkan simak video berikut :https://vt.tiktok.com/ZSNNarFmj/
Karena teknik ini bersifat geseran pada salah satu sisi Carabiner maka jangan dilakukan pada ketinggian diatas 10m . Posisi Carabiner yang sangat panas bisa melelehkan webbing, tetapi kalau terpaksa harus Rappelling diatas 10 m maka jangan ngebut, pelan-pelan saja bila perlu istirahat sebentar agar carabiner tidak terlalu panas.
Semua kegiatan alam bebas pasti beresiko dan resiko itu akan berkurang bahkan hilang ketika kita faham karakter alat, kemampuan alat, menguasai teknik dengan benar dan yang sangat penting lagi adalah memohon keselamatan kepada Allah SWT.
Cepu Adventure, Sahabat petulangan Anda….