Dapat kabar dari grup outbound Cepu Adventure, bahwa akan ada sekolah Vertical Rescue Indonesia yang di selenggarakan oleh VRI Regional Dieng. Ada beberapa team Cepu Adventure yang akan diberangkatkan oleh Pak dhe Jono selaku pembina dan penggagas Cepu Adventure. Namun dengan padatnya kegiatan teman – teman, akhirnya hanya saya (Muh Umar) dan Mbak Ima yang bisa mengikuti kegiatan Sekolah VRI. Saya berangkat dari rumah setelah sholat Dzuhur sekitar pukul 12.30 wib, tak lupa berpamitan dengan ibu untuk berangkat mengikuti kegiatan tersebut. Bagaimanapun doa ibu adalah bekal yang paling berharga di setiap kegiatan.
Sebelum menjemput Mbak Ima dirumahnya, saya mengambil memori card kamera di rumah Fitriya di Klagen, lanjut mengambil kamera di basecamp Cepu Adventure serta meminta do’a restu Bu Jono yang kebetulan ada di rumah.
Lanjut menuju ke rumah Mbak Ima sekalian ganti kendaraan PCX biar lebih nyaman karena kata Mbak Ima belum lama motornya di servis. Karena belum makan, saya diajak mampir di warung makan samping Polres Blora, sekalian Mbak Ima berpamitan dengan Pak Ima alias Pak Nanang. Beliau berpesan kepada Mbak Ima agar hati – hati gak usah kebut – kebutan dijalan. “Ya bilang sama Umar itu mas, kan yang nyetir Umar”. ” Siap Pak Nanang “, jawab saya. ” Tapi kayak e Umar kalau bawa motor kalem, santai kok ” Imbuh mbak Ima. Akhirnya kita berdua berangkat dari Polres Blora pukul 14.30 wib. Bismillahirrahmanirrahim, Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

Pelan – pelan asal sampai tujuan, pun ketika jalannya mulus dan sepi kendaraan kami tambah kecepatannya, hehehe. Ketika sampai di Ngawen kami menemui antrian kendaraan yang cukup panjang, dan ternyata di depan sedang berlangsung Karnaval. Akhirnya sesekali saya ambil jalur kiri agar tidak terlalu lama terjebak kemacetan. “Ibuk… Ibuk… Ibuk…” kata – kata itulah yang di ucapkan Mbak Ima ketika saya ambil jalur kiri, karna jalurnya yang sempit dan mepet dengan kendaraan. Alhamdulillah akhirnya kami lolos dari kemacetan. Lanjut perjalanan, kami mengekor di belakang Bus Garuda Mas yang sama – sama menuju ke arah Barat. Begitu lampu send Bus sebelah kanan nyala, saya pun ikut menyalakan lampu send, sebagai isyarat kalau kami akan mendahului kendaraan yang kecepatan lebih pelan.
Sesampainya di Wirosari kami disuguhi dengan antrian kendaraan lagi, serta di iringi musik DJ yang begitu keras, taulah bulan Agustus kalau di jalanan ada suara musik yang keras ada apa…?” Yups.. Karnaval “. Akhirnya kami memperlambat laju motor sambil menikmati hiburan gratis, sambil mengangguk – anggukkan kepala, karena kurang puas mengikuti karnaval, hehehe. Sekitar pukul 16.30 wib kami istirahat dan sholat di Masjid Baitul Amin Purwodadi, depan Pull Bus Zentrum.

Setelah beberapa menit istirahat, kami pun lanjut perjalanan agar tidak terlalu malam di perjalanan. Baru beberapa menit kami jalan, lagi – lagi ada antrian kendaraan, tapi kali ini bukan Karnaval ya, ini adalah antrian kendaraan yang gantian melintas dengan sistem buka tutup perbaikan ruas jalan. Ada sekitar 3 titik perbaikan ruas jalan yang membuat kendaraan harus bergantian melintas. Yang paling parah kemacetan terjadi di Kecamatan Karang Ngawen, di samping perbaikan ruas jalan, kemacetan diperparah dengan jam pulang kerja, semua kendaraan memadati ruas jalan, sama – sama pengen cepat sampai tujuan. Tapi kalau kendaraan bermotor masih amanlah. Dan terdengar kembali kata – kata ” Ibuk… Ibuk… Ibuk…” dari mulut Mbak Ima. Karena sudah pukul 18.30 wib, Kami menepi di Masjid Agung Baitul Makmur untuk melaksanakan sholat Maghrib.
Setelah dirasa cukup istirahat kami lanjut perjalanan lagi, menuju rumah Mas Eza sebagai tujuan pertama untuk bersinggah istirahat dan bermalam. Karena jarak sudah dekat dengan Rumah Mas Eza saya membuka dan mengikuti petunjuk jalan dari Mbah kita semua, Mbah Google Maps, selama paket data cukup, gak perlu khawatir kesasar. Sekitar pukul 21.00 WIB kami bertemu Mas Eza di Angkringan sebelum masuk kompleks perumahan Mas Eza. Kami diampirkan di Angkringan karena istri Mas Eza sudah istirahat dan tidak memasak untuk menjamu kedatangan kami berdua. Lanjut menuju ke rumah Mas Eza untuk bersih – bersih dan istirahat setelah berjibaku dengan kemacetan. Gak langsung istirahat, malah berbincang – bincang ngalor ngidul tentang dunia perbolangan, hehehe…

Pagi pun tiba, sebelum berangkat kami dibuatkan sarapan nasi goreng oleh istri Mas Eza, malam gak bisa menjamu kami di ganti pagi harinya. Sembari saya memanasi motor, jiwa – jiwa mbak pun muncul, menyuapi sarapan Raeyhan anak bungsu Mas Eza. Alhasil sebelum lanjut perjalanan Raeyhan pun lengket sama Mbak Ima, drama dah akhirnya. Terimakasih atas kesediaan Mas Eza rumahnya kqmi jadikan tempat singgah semalam plus paket sarapannya, lemah teles Mas Eza dan istri.

Karena tidak faham dengan rute menuju lokasi kami pun membuka link lokasi yang di share grup Sekolah VRI. Pemandangan sepanjang jalan pun begitu manja untuk kami lihat dan nikmati. Dirasa capek kami pun minggir turun dari jalan aspal untuk istirahat dan mengabadikan moment, tak lupa update status di media sosial. Saya iseng – iseng jaili Sobirin yang gak bisa ikut berangkat dengan pemandangan yang indah, ketika saya video call malah di tolak… katanya sih lagi cari cuan buat jajan. Gagal deh buat pamer pemandangan ke Sobirin, hehehe.

Lanjut lagi karena estimasi perjalanan tinggal 1 jam setengah. Suhu udara yang semakin dingin menandakan lokasi sudah dekat, karena Dieng terkenal dengan tempatnya yang dingin. Sempat terlewat kurang lebih 150 M dari lokasi, akhirnya kita sampai di lokasi pembukaan kegiatan VRI, tepatnya di Balai Desa Jojogan sekitar pukul 09.00 wib, Alhamdulillah. Bisa di bilang kami adalah peserta yang datang pertama datang ditempat regristasi, di susul dengan Mas Josua dari Temanggung, lalu disusul lagi rombongan dari Purbalinggan dan Batang. Awal ketemu masing – masing peserta agak jaim, hehehe. Kemudian sekitar pukul 10.30 wib semua peserta diarahkan untuk masuk dalam Aula Balai Desa Jojogan untuk mengikuti acara pembukaan Sekolah Vertical Rescue Tingkat I Regional Dieng. Setelah acara pembukaan selesai peserta di berikan selembar kertas dan alat tulis guna melakukan Pre-test Vertical Rescue Evacuation. Dengan santainya Mbak Ima mengerjakan Pre-test yang di beri oleh panitia, dan Mbak Ima pun menjadi peserta yang paling akhir mengumpulkan Pre-test.

Selesai mengerjakan soal Pre-test para peserta langsung di berikan kaos kegiatan. “Kaos ini harus selalu di pakai ketika mengikuti meteri selama 3 hari kedepan”, Ujar Kang Adrian selaku Pelatih dari Mako VRI Pusat. “Nanti tepat pukul 13.00 wib kita kumpul lagi di Aula Balai Desa,guna persiapan untuk mobilisasi menuju Tebing Watu Gribik”, Imbuh kang Adrian. Setelah itu peserta diarahkan untuk geser ke Basecamp untuk menaruh barang bawaan dan sekaligus tempat tidur peserta. Disini yang awalnya antar peserta masih jaim, dikit demi sedikit mulai akrab dan saling tegur sapa antar peserta. Oh ya… perlu saya sampaikan untuk Basecamp kita numpang di rumah warga sekitar Balai Desa Jojogan. Karena hari itu adalah hari Jum’at, peserta laki – laki bersiap – siap untuk melaksanakan Sholat Jum’at.
Setelah melaksanakan Sholat Jum’at para peserta melanjutkan perkenalan antar peserta yang lebih mendalam. Kami pun masih santai – santai, padahal jam 13.00 wib di suruh untuk ngumpul di Aula Balai Desa untuk persiapan menuju Tebing Watu Gribik, Kami kira dari panitia ada yang mengkondisikan untuk kumpul, ternyata panitia sudah stanbay di Balai Desa. Akhirnya pemberangkatan menjadi molor dari jadwal yang sudah di susun panitia. Sekitar Pukul 13.20 wib baru meluncur menuju lokasi dengan menggunakan Truk Engkel. Perjalanan sekitar 15 – 20 menit, dengan jalur muter berkelak – kelok dan naik turun.

Hari pertama materi yang di sampaikan adalah Teknik Penjangkauan yang meliputi Leading, Traversing, dan Abseiling/descending. Leading adalah teknik menjangkau korban dengan cara melakukan pemanjatan perintisan dari bawah keatas dengan pengaman lintasan dan jarak tertentu. Dalam Pemateri menyampaikan materi ada beberapa peserta yang mencatat poin – poinnya, tetapi malah di tegur sama Kang Adrian “ Gak perlu di catat, nanti selesai acara pasti Modul akan di share”. ‘Siap Kaang”, Jawab peserta. “Iya, jadi teman – teman fokus pada saya saja “ Imbuh kang Adrian. Setelah di jelaskan kemudian di contohkan oleh Mas Fahmi dan Kang Aufa. Ada kejanggalan yang ingin saya tanyakan. Begitu ada kesempatan bertanya Saya pun mengacungkan jari, “ Kenapa Belayer tidak memakai sarung tangan ?”. “ Ya… Di sini kita bukan sedang berkompetisi, di sini sedang melakukan penyelamatan / evakuasi, jadi gerakan kita pelan – pelan gak perlu cepat – cepat, jadi walaupun gak pakai sarung tangan tidak akan panas”. “Oh,,, Siap Kang, terimakasih”. Sedang Traversing adalah teknik Menjangkau korban dengan cara melakukan perintisan gerakan menyamping dengan pengaman lintasan dan jarak tertentu.

Sebelum penjangkauan (di dasar medan), harus di perhatikan hal – hal berikut :
- Pastikan simpul-simpul yang digunakan sudah benar.
- Periksa kembali semua perlengkapan yang menggunakan jahitan.
- Jika menggunakan sabuk pengaman/harness, perhatikan pengunci pada buckle.
- Buka ikatan tali yang akan digunakan, urai dan urut dengan setengah menekan dari ujung yang satu hingga ujung yang lain untuk memastikan bahwa tali dalam kondisi baik dan tidak ada cacat.
- Penjangkau/perintis memasang simpul delapan ujung tali pada harness.
- Belayer memasang alat belay.
- Belayer/penambat melakukan pengecekan pada Penjangkau/perintis: posisi harness diatas tulang panggul dan dipangkal paha, kekencangannya cukup,buckle terpasang dengan benar, simpul delapan ujung tali terpasang dengan benar, helm terpasang dengan benar.
- Penjangkau/perintis melakukan pengecekan pada belayer/penambat : posisiharness diatas tulang panggul dan dipangkal paha, kekencangannya cukup, buckle terpasang dengan benar, alat belay terpasang dengan benar, carabiner terkunci, helm terpasang dengan benar.
- Perintisan dilakukan bila sudah tercapai kesepakatan atau Leader dan belayer sudah siap.
Ascending dan Discending kelihatannya materi yang sudah familiar, karena pernah di sampaikan oleh Pak Dhe Jono waktu kegiatan di Cepu Adventure. Beberapa tahun yang lalu saya pernah praktek bersama teman – teman kampus tanpa di dampingi Pak Dhe Jono, hampir gagal saat perpindahan alat naik ke alat turun, tapi alhamdulillah bisa menyentuh tanah lagi dengan selamat. Dengan penyampaian yang mudah difahami oleh Kang Adrian, akhirnya Saya di tunjuk oleh Beliau untuk praktek Ascending dan Discending yang pertama. Sebelum para peserta praktek Ascending dan Discending tentunya di praktekkan oleh para pelatih. Dan Saya pun janggal kenapa tidak memakai sarung ketika Discending. Tiba sesi bertanya saya pun kembali bertanya, “Kenapa ketika turun tidak memakai sarung tangan?”. Dan jawab Kang Adrian sama “ Ya… Di sini kita bukan sedang berkompetisi, di sini sedang melakukan penyelamatan / evakuasi, jadi gerakan kita pelan – pelan gak perlu cepat – cepat, jadi walaupun gak pakai sarung tangan tidak akan panas”.

Karena hari sudah sore, para peserta pun kembali ke Basecamp dengan kendaraan Truk Engkel yang tadi pagi mengantarkan. Sekolah Vertical Rescue Tingkat I kali ada 2 peserta yang masih di bawah umur, yaitu atas nama Fahmi dan Ahdan yang sama – sama dari Kabupaten Batang. Karena masih di bawah umur maka harus di dampingi oleh orang tuanya. Mas Lukman dan Mas Ali ( teman VRI angkatan 89 pakdhe Jono di Pangandaran ) pun selalu mendampingi ketika mereka mengikuti materi, lebih – lebih ketika di luar rungan. Kebetulan Saya satu Basecamp dengan 4 peserta dari Batang ( Mas Dian, Riska, Fahmi, dan Ahdan ), 4 peserta dari Purbalingga ( Kang Bagus, Mas Adnu, Mas Putra dan Mas Juanto ) dan 1 peserta dari Sleman ( Pak Didik ).
Sebelum peserta istirahat malam masih ada Materi yang harus diikuti oleh peserta. Materi malam pertama di sampaikan oleh Kang Adrian yaitu pengenalan alat – alat yang di gunakan dalam operasi penyelamatan. Mulai alat – alat yang keluaran lama hingga peralatan yang terbaru dengan seiring teknologi dan kebutuhan. Ada Tali / Rope, Locking Carabiner, Non Locking Carabiner, Friction Based Belay Device, Assisted Belay Device, Hanger & Bolt, Harnes, Pulley, dan masih banyak lagi. Peserta juga di berikan gambaran untuk Materi Lapangan besok pagi. Penyampain materi yang tidak membosankan, sering berinteraksi dengan peserta, Saya pun tidak ngantuk sama sekali sampai materi selesai.

Matahari terbit dari timur, pertanda hari kedua kami mengikuti SVR I. Kami pun bersiap – siap untuk materi selanjutnya di Tebing Watu Gribik, seperti biasa kami naik Truk untuk menuju lokasi. Dalam perjalanan peserta dari Purbalingga mulai aktif menjahili teman – teman sehingga suasana menjadi sangat cair. Fahmi menjadi target pertama yang di jahili. Jalan menuju lokasi seperti medan offroad, jadi sesekali peserta teriak kepada Sopir. “ Pelan – pelan Perrr… Allahuakabar… Allah… Allah… Ganjel To Ganjel To…”.

Di hari kedua ini ada beberapa praktek lanjutan di hari pertama karena belum sempat praktek. Kemudian lanjut untuk materi simulasi evakuasi pada Vertical Rescue (Vertical Rescue Evacuation) yaitu Hauling, Lowering, dan Suspension. Minimal pengaman tali atas ( Anchor System ) adalah 2 titik, dan media yang digunakan haruslah menggunakan media yang keras, misal pohon hidup, tebing, atau bangunan yang kuat. Kami di hari kedua juga mendapatkan materi bagaimana cara menginstallasi Tripod. Tripod adalah tiang logam berkaki tiga yang digunakan untuk menghindari gesekan tali. Tripod terutama sekali digunakan untuk proses evakuasi korban atau obyek dari dalam lubang.

Hari sudah sore waktunya para peserta untuk kembalike Basecamp untuk bersih – bersih dan persiapan materi ruangan malam hari. Dimalam kedua ini Komandan Vertical Rescue Indonesia Kang Tedi Ixdiana yang bertindak langsung sebagai pemateri. Di mata Saya Kang Tedi ini sosok pribadi yang sederhana tetapi tidak mengurangi kewibawaannya.Terlihat ketika materi di lapangan pas siang hari, beliau juga mendampingi peserta dan bahkan beliau tak sungkan – sungkan untuk menggabil dokumentasi kegiatan, itulah kenapa saya bisa katakan kalau Kang Tedi ini sosok yang sederhana.

Gak ada hari terakhir, yang ada hari ketiga kegiatan SVR I, hari ini kita praktek setelah kemarin kita simulasi. Hauling adalah Teknik Vertical Rescue Evacuation yang dilakukan dengan cara menaikkan korban. Evakuasi dengan teknik ini diharuskan mengurangi friksi (gesekan). Untuk mengurangi friksi dan meringankan beban maka digunakan 3 macam system yaitu A-System, Z-System dan M-system.
Lowering adalah :Teknik Vertical Rescue Evacuation yang dilakukan dengan cara menurunkan korban. Evakuasi dengan teknik ini harus memperbesar friksi. Dalam aplikasinya, cara ini menggunakan descender (alat bantu untuk menuruni medan curam) seperti figure of eight, Auto stop , ID’s dll atau dapat juga menggunakan Jerat Tambat (Italian hitch). Suspension adalah Teknik Vertical Rescue Evacuation yang dilakukan dengan cara menyeberangkan korban baik dari titik tinggi ke titik rendah ataupun sebaliknya.

Alhamdulillah hari ketiga sudah terlewati dan materi sudah disampaikan, tibalah waktunya penutupan kegiatan. Penutupan di lakukan di lokasi kegiatan, dan Alhamdulillah Kang Tedi masih setia menemani peserta sampai acara penutupan. “ Selamat kepada peserta telah mengikuti kegiatan sampai hari ketiga dan Selamat bergabung di Keluarga Besar Vertical Rescue Indonesia. Semoga ini bukan pertemuan yang terakhir, dan semoga kita dipertemukan kembali tidak dalam kegiatan penyelamatan, opsar, atau kebencanaan, tetapi dipertemukan dalam kegiatan latihan”, ujar Kang Tedi.

Singkat cerita sebelum pulang, hari keempat Saya dan Mbak Ima mampir ke Telaga Warna dan Titik Nol Dieng mumpung sudah sampai di kawasan Dieng dan sambil menunggu Sertifikat karena kemarin ada kesalahan dalam pencetakannya.

Setelah kami selesai jalan – jalan berpamitan kepada Pak Abdul Rokim yang rumahnya di jadikan Basecamp. “ Terimakasih Pak Rokim selama 4 hari kami di sambut dan diberikan pelayanan yang sangat baik, mohon maaf bila selama 4 hari ada perilaku yang berkenan di keluarga Pak Rokim ” ucap perwakilan peserta yang masih di lokasi sampai hari keempat. ” Sama – sama Mbak Mas, Saya juga senang bisa menerima tamu seperti njenengan – njenengan, tetap jaga silaturahmi, misal njenengan main ke Wonosobo jangan sungkan – sungkan untuk mampir ke rumah Saya lagi, Mohon maaf gak bisa kasih oleh – oleh untuk di bawa pulang, soalnya kentang panen 1 bulan lagi. Monggo 1 bulan lagi njenengan main ke sini lagi, bisa bantu panen dan pulang sudah ada oleh – oleh untuk di bawa pulang “, Ujar Pak Abdul Rokim. Sebuah keramahan khas warga Dieng yang luar biasa….