Kali ini Cepu Adventure akan berbagi kenangan dengan anda tentang spot yang luar biasa ini. Lokasinya memang istimewa, benar-benar diantara dua gunung besar yaitu Sumbing dan Sindoro.

Pemilihan lokasi
Sebenarnya pilihan lokasi tersebut bukan hal yang asing bagi saya, karena sewaktu masih dinas di Magelang dan ada pekerjaan di Wonosobo pasti melewati jalur tersebut. Yang membedakan hanyalah jembatan lama Sigandul yang cukup berbahaya karena setelah jembatan langsung belokan tajam dan menukik, saat ini sudah dibangun jembatan yang cukup indah dengan rute yang tidak terlalu berbahaya tentunya.
Setelah melalui berbagai diskusi kecil oleh semua team toko Cepu Adventure terkait lokasi healing tahun ini setelah 3 tahun tidak bisa kemana-mana akibat Covid-19 maka pilihan jatuh ke Sigandul View. Berbekal informasi dari medsos tentang Sigandul view yang sudah dikelola secara profesional sebagai tempat wisata yang ramah bagi siapapun maka dibuatlah rencana detail perjalanan.

Perjalanan ke lokasi
Adikku Khusnul Khotimah yang ngurusi transportasi sedangkan saudara yang lain mempersiapkan perbekalan sepanjang perjalanan. Ternyata team Toko Cepu Adventure juga sudah 1 long ELF jumlahnya.
Sengaja mengambil tanggal merah yaitu tanggal 18 Februari agar semua bisa ikut termasuk yang masih sekolah, kami berangkat jam 03.00 dinihari agar sampai lokasi masih pagi dan bisa menikmati kabut gunung Sumbing. Sampai di rest area Ngawi pada saat sholat Subuh kami melaksanakan sholat sekaligus istirahat sebentar. Ternyata masjid yang cukup besar di rest area tersebut penuh sesak oleh anak-anak sekolah yang sedang rekreasi. Tempat parkirpun penuh dengan bus-bus wisata.
Selesai sholat subuh kami melanjutkan perjalanan sampai exit toll Bawen kemudian masuk jalan lingkar Ambarawa. Dari jendela mobil terlihat luasnya Rawa Pening yang dibelakangnya juga terdapat pegunungan Banyubiru. Hampir semua keluarga besarku mengeluarkan HP nya masing-masing untuk mengabadikan keindahan alam tersebut. Sampai di Pom Bensin kami istirahat sebentar sambil menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan dari rumah. Maklum kami tinggal didaerah yang cukup panas sehingga ketika di daerah dingin perut pasti cepat lapar, heeee…..
Nah, ketika dari Ambarawa ke arah Temanggung ini sopirnya kurang hafal medan sehingga saya yang harus jadi pemandu. Maklum, beliau banyak jalan di area Jawa Timur dari pada Jawa Tengah. Seperti layaknya Tour guide saya menjelaskan ke mas sopir dan adik-adik tentang route yang akan kita tempuh. Untung dulu pernah dinas di Magelang jadi cukup hafal jalan-jalan disekitar ex Karesidenan Kedu.
Sampai dilokasi sekitar jam 08.30 kami disuguhi hujan gerimis dan gunung Sumbing belum kelihatan, apalagi Gunung Sindoro di seberangnya yang masih tertutup kabut. Kamipun segera booking tempat untuk menunggu dan menikmati suasana pegunungan yang cukup dingin itu.

Untuk menghangatkan badan kami memesan kopi dan gorengan sambil menunggu kabut “terbuka” di gunung Sumbing. Setelah beberapa menit kami menikmati kopi hujanpun mulai reda dan cuaca mulai panas. Alhamdulillah berarti sebentar lagi keindahan gunung Sumbing akan segera terlihat. Benar saja beberapa menit kemudian puncak Sumbing yang pernah kudaki beberapa tahun yang lalu mulai muncul. Serentak semua keluarga besarku mencari tempat masing-masing untuk berfoto dengan latar belakang gunung Sumbing. Alhamdulillah

Dari ruang kaca lantai dua tersebut terlihat jelas kontur gunung Sumbing sampai ke Puncaknya. Ada 2 puncak yang sangat terkenal di gunung Sumbing yaitu puncak Rajawali dan puncak Sejati. Lokasi puncaknya tidak terlalu jauh, tetapi untuk sampai ke puncaknya ada treck istimewa sehingga bantuan tali sangat dibutuhkan. Tapi setelah sampai puncak semua kelelahan akan hilang seperti yang sering dipakai status anak-anak sekarang: “Usaha tidak mengkhianati hasil “.





Setelah beberapa saat kita menikmati gunung, keponakan yang kecil-kecil pada minta keluar ruangan untuk melihat taman bermain anak-anak. Beberapa kelinci yang keluar dari rumah kecilnya tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Kompak mereka minta dibelikan makanan untuk bisa menyuapi kelinci dengan tangannya sendiri. Sementara kami yang dewasa cukup mengawasi dari kejauhan.

Masih satu spot lagi yang cukup istimewa yaitu jembatan kaca. Setelah kita bayar tiket untuk menaiki jembatan kaca maka nyali kita terasa diuji. Padahal sebenarnya konstruksi dan bahan yang digunakan tentu sudah teruji kualitasnya. Beberapa dari kami setelah berfoto diujung jembatan kembalinya jadi grogi setelah melihat kebawah. Padahal sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tapi karena efek pandang yang tembusa sampai bawah menjadikan image kita seolah-olah berada ditempat yang tinggi.


Perjalanan pulang
Setalah cukup puas menikmati keindahan gunung Sumbing maka kami berangkat lagi ke spot berikutnya yaitu Eling Bening- Bawen. Cuaca mulai hujan lagi sehingga gunung Sindoro yang mulai pagi terutup awan semakin tidak terlihat. Sesampainya di Pringsurat kami mampir untuk makan siang di Rumah makan Sarangan sebagai salah satu rumah makan langganan kami ketika balik ke Magelang setelah mudik ke Cepu.
Mendekati Bawen hujan semakin deras dan ketika mendekati Eling Beningpun hujan tidak reda sedikitpun. Kami berdiskusi untuk spot yang kedua ini. Karena lokasi parkir dan spot-spot yang ada jaraknya lumayan jauh sementara hujan semakin deras maka akhirnya kami putuskan untuk kembali ke Cepu. Berarti rejekinya hari ini hanya menikmati gunung Sumbing.
Diperjalanan keponakan -keponakan yang sudah remaja minta ganti spot yang kedua dengan makan di MIE GACOAN yang saat itu lagi booming. Alhamdulillah mas sopir tahu lokasinya yang di Ngawi. Kamipun belok kesana untuk makan malam bersama keluarga sekaligus “nggembyaki “yang muda-muda.

Ternyata rame juga lokasinya sehingga kami menunggu hampir 1/2 jam untuk bisa menikmatinya. Tapi nggak apalah, yang penting semua bahagia, heee…..